25 Desember 2016

Home » » » Seperti Inikah Ujian Tahfidz UIN Bandung ?

Seperti Inikah Ujian Tahfidz UIN Bandung ?

Oleh: Naufal Fauzy, 25 Desember 2016, 0 komentar

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung punya ciri khas dalam mendidik para mahasiswanya. Karakter ini juga dimiliki oleh universitas Islam lainnya di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah tes Tahfidz Qur'an. Setiap mahasiswa diwajibkan menghafal 1 sampai 3 juz atau lebih karena dari tahun ke tahun selalu ada pengembangan perihal persyaratan ini. Syarat ini adalah syarat sebelum menginjak sidang munaqosah/skripsi. Jadi, jika tahfidz belum lulus, mana bisa kamu sidang.

Ada cerita yang beredar di kalangan mahasiswa soal tahfidz Qur'an. Walau pun kebenaran cerita ini masih dipertanyakan, mungkin saja bisa jadi informasi yang berguna untuk kamu yang kuliah di UIN. Saya akan bongkar dalam tulisan blog ini. Kronologis kejadiannya seperti ini:

Suatu pagi di suatu fakultas dimana informasi detil fakultas ini tidak diketahui (mungkin dirahasiakan), sedang dijadwalkan pelaksanaan tes tahfidz. Seluruh mahasiswa yang mengikuti tes dibagi kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang. Mereka di uji oleh penguji dari fakultas masing-masing. Ada sebuah kelompok mahasiswa yang dipanggil oleh penguji tahfidznya untuk masuk sebuah ruangan.

Seperti Inikah Ujian Tahfidz UIN Bandung ?
Mereka bertiga menghadap penguji secara bersamaan. Sebenarnya setiap penguji punya cara tersendiri. Ada yang memanggil satu per satu peserta, ada juga yang langsung 1 kelompok. Tapi tetap saja dalam pelaksanaan tes dari setiap peserta harus mandiri. Waktu itu sang penguji langsung menguji sambil mengabsen. Mungkin karena ada antrian kelompok lain.

"Baik, sudah siap kan semua ?," tanya penguji dengan santai.
"Siap pak !," serentak jawab para peserta dengan agak grogi. (Haha).
"Bapak tes langsung ya. Coba nama kamu siapa ?, sambil menatap si peserta 1.
"Saya, saya Annas  , pak."
"Oh, itu nama surat ya, coba anda baca surat Annas dulu, dengan tartil ya !."
Akhirnya si peserta 1 membacanya dengan tartil dan lancar. (Wong itu surat pendek).
Dilanjut sang penguji menatap si peserta 2.
"Nama anda ?," tanya penguji.
"Nama saya Thariq, pak."
"Wah, nama surat juga. Coba anda baca surat At-Thariq, masa gak bisa ? nama sendiri."
Si peserta 2 pun membaca dengan sangat hapal. Makhroj dan tajwid pun ia kuasai. Kemudian yang terakhir, si peserta 3.
"Nama anda ?," tanya penguji sambil menatap si peserta 3.
"Anu, nama saya Imron, pak," si peserta 3 ini merasa gelisah, ia melanjutkan, "Tapi saya biasa dipanggil Kulhu, pak."
Sang penguji merasa heran. Sedangkan si peserta 1 dan 2 nahan tawa.

Serius amat. Hihi.